Skip to main content

5 Dampak Akibat Tidak Membayar Pinjaman Online

akibat-tidak-membayar-pinjaman-online
© iStock/Chunumunu

Dengan maraknya perkembangan bisnis fintech saat ini, banyak masyarakat yang tergoda untuk mengajukan pinjaman guna memenuhi kebutuhan konsumtif mereka. Ada sebagian orang yang memanfaatkan fasilitas ini untuk membayar belanjaan online, untuk tarik tunai dan lain sebagainya. Tetapi perlu diingat bahwa di balik kemudahan tersebut tersimpan risiko yang bisa membuat orang stres jika tidak dapat mengelola dengan baik.

Dampak akibat tidak membayar pinjaman online  bisa menjadi momok tersendiri karena dapat membuat orang trauma. Orang bisa merasa kebingungan ketika melihat bunga yang terus bertambah dan utang pokok tidak berkurang. Orang semakin terhimpit dan akhirnya lari dari tagihan debt collector yang semakin agresif untuk menagih utang. Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat agar tidak banyak orang yang terjebak aplikasi pinjaman online.

Pada kesempatan ini JurnalForex ingin mengulas beberapa hal yang berhubungan dengan aplikasi pinjaman online baik dari nilai positif maupun negatif. Tulisan ini bertujuan agar masyarakat lebih bijak dalam memanfaatkan fasilitas fintech yang sekarang ini semakin marak.

4 Fakta Pinjaman Online Tanpa Agunan.

#1. Nilai Bunga Pinjaman yang Tinggi.

Sebagai produk pinjaman tanpa agunan, aplikasi pinjaman online tentu saja menyandarkan risiko gagal bayar pada skor angka kredibiltas peminjam. Ketika nilai skor semakin tinggi, maka orang itu dianggap lebih layak untuk mendapatkan pinjaman tanpa agunan. Bagi perusahaan fintech yang secara resmi terdaftar di OJK maka mereka dapat mengumpulkan informasi lebih baik melalui lembaga-lembaga keuangan resmi di Indonesia.

Konsekuensi dari pinjaman tanpa agunan biasanya terletak pada nilai bunga pinjaman yang tinggi. Jika hal ini tidak disadari oleh calon peminjam, maka akan menjadi masalah baru jika terjadi gagal bayar karena nilai bunga yang terus bertambah. Maka dari itu dianjurkan bagi calon peminjam untuk mempelajari sistem bunga dan risiko apa yang akan terjadi akibat tidak membayar pinjaman online.

Menurut informasi, saat ini OJK belum mengatur secara terperinci mengenai batas maksimal bunga yang diperbolehkan untuk sebuah kredit pinjaman online. Sehingga nilai bunga tersebut masih dipengaruhi oleh masing-masing perusahaan fintech dengan berbagai latar belakang risiko. Mengingat bahwa risiko pinjaman online tanpa agunan lebih tinggi, maka beban bunga akhirnya menjadi senjata untuk mengurangi kerugian karena gagal bayar atau orang tidak mau bayar.

#2. Mengambil Data Pribadi Saat Download Aplikasi Pinjaman Online.

Untuk meningkatkan nilai skor kredibilitas seorang calon peminjam, maka perusahaan fintech akan mencari informasi pribadi orang tersebut untuk melakukan validasi bagi calon peminjam. Maka dari itu ketika orang melakukan download aplikasi pinjaman online, maka akan muncul pemberitahuan tentang persetujuan perangkat tersebut untuk mengambil data seperti nomor kontak di HP, data email dan informasi lainnya. Hal ini yang kadang tidak disadari oleh calon peminjam.

Data-data tersebut akan dipakai oleh perusahaan fintech untuk menghubungi nasabah jika terjadi macet bayar atau kontak peminjam tidak bisa dihubungi. Maka sering kita dengar orang mengeluh dikejar-kejar debt collector dari pinjaman online melalui nomor HP keluarga, teman bahkan sampai pimpinan kantor. Meskipun ini bisa masuk ke pelanggaran hukum, namun cara tersebut tanpa sadar telah mendapat persetujuan sejak pertama kali download aplikasi pinjaman online.

#3. Plafon Pinjaman yang Relatif Kecil.

Meskipun proses pinjaman ini relatif mudah dan cepat, namun fakta yang bisa kita lihat adalah hampir sebagian besar fintech memiliki plafon pinjaman yang relatif kecil. Hal ini wajar, karena minimnya jaminan bagi calon peminjam, sehingga perusahaan fintech juga tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi.

Plafon yang kecil ini juga sebetulnya memberikan nilai positif bagi masyarakat agar tidak terlampau jauh untuk mencari utang karena fasilitas yang mudah. Selalu perhatikan kemampuan membayar dengan mengukur pendapatan dan pengeluaran tiap bulan. Budayakan hidup hemat untuk mempermudah dalam mengatur keuangan keluarga.

#4. Muncul Biaya Administrasi Penagihan.

Biaya ini biasanya kurang menjadi perhatian para calon peminjam karena mereka lebih fokus pada jumlah bunga dan proses pencairan. Namun ketika terjadi keterlambatan cicilan, mereka baru sadar bahwa menemukan tambahan biaya penagihan. Hal ini juga perlu menjadi perhatian sejak awal melakukan pinjaman.

Untuk besar biaya administrasi penagihan tentu saja tergantung dari perusahaan fintech masing-masing. Untuk itu pastikan daftar tersebut tertera secara jelas atau minimal tanyakan hal tersebut kepada administrator sebelum melakukan pinjaman.

Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun jika terkumpul beberapa hari dan seluruh utang tidak terselesaikan maka nilai tersebut akan semakin banyak dan membebani peminjam. Untuk itu sekali lagi mohon jadi perhatian bagi pemohon.


Baca Juga: 3 Prinsip Dasar Bank Syariah


5 Dampak Buruk Akibat Tidak Membayar Pinjaman Online.

Oke sekarang kita lanjutkan pada pokok pembahasan kita kali ini yaitu tentang dampak yang muncul akibat peminjam tidak membayar cicilan pinjaman online secara tertib. Apa saja hal mungkin terjadi?

#1. Bunga Semakin Mencekik.

Seperti sudah dibahas di atas tadi bahwa bunga pinjaman online tanpa agunan relatif lebih tinggi karena tingkat risiko gagal bayar yang lebih besar.

Bagi kamu yang terlambat hingga berbulan-bulan maka akan merasakan bunga yang sangat berat dan bisa menyamai jumlah pinjaman pokok. Hal ini tentu saja akan memberatkan nasabah dan kesulitan untuk melunasi.

Bagi calon nasabah yang ingin melakukan pinjaman, disarankan untuk mempelajari secara betul sistem perhitungan bunga dan sangsi yang diberikan jika terjadi keterlambatan cicilan. Pilih perusahaan fintech yang secara terbuka memberikan informasi bunga sejak awal.

Banyak aplikasi pinjaman online tanpa agunan yang secara sengaja menutupi perhitungan bunga secara rinci. Mereka hanya memberikan gambaran perhitungan ketika terjadi kelancaran dalam melakukan angsuran. Namun tidak memberikan informasi secara terbuka berapa denda harian jika terjadi keterlambatan. Bagi calon nasabah, pelajari baik-baik sistem pinjaman yang berlaku.

#2. Nomor Kontak Kerabat atau Teman Menjadi Sasaran Penagihan.

Kita sering mendengar orang yang mengeluh karena teman atau atasannya ikut jadi sasaran para debt collector untuk memberitahukan kepada peminjam agar segera melunasi utang. Jika hal itu terjadi kepada diri kita tentu saja ini akan sangat memalukan. Apalagi jika nomor yang dihubungi adalah atasan kita atau kepala sekolah murid kita.

Darimana data ini bisa mereka dapatkan? Perlu disadari bahwa ketika pertama kali melakukan download aplikasi, kita telah menyetujui software tersebut untuk masuk ke dalam perangkat guna menelusuri nomor kontak dan informasi lainnya yang berguna untuk proses penagihan jika terjadi gagal bayar atau cicilan tidak lancar.

Mengingat bahwa pinjaman yang kita lakukan tidak memiliki jaminan, maka faktor yang bisa dipakai sebagai data skor peminjam adalah data pribadi melalui HP. Untuk itu perlu menjadi perhatian khusus bagi calon peminjam agar betul-betul memperhatikan jumlah pinjaman dengan pendapatan agar tidak terjadi hal yang memalukan seperti itu.

#3. Tambah Pengeluaran Untuk Biaya Penagihan.

Hal ini juga perlu menjadi perhatian bagi calon peminjam agar betul-betul memperhatikan dalam melakukan utang melalui aplikasi pinjaman online. Jika kamu terlambat hingga melebihi masa jatuh tempo maka perusahaan fintech akan memberikan informasi dan penagihan secara berkala. Namun perlu diketahui bahwa proses ini juga memakan biaya untuk peminjam.

Perusahaan fintech kadang menyewa jasa debt collector dalam melakukan penagihan. Jasa ini tentu saja mengeluarkan biaya dan sebagian akan dibebankan dari biaya penagihan tersebut.

#4. Nama Akan Masuk Daftar Black List.

Untuk perusahaan fintech resmi dan terdaftar di OJK, maka data akan terintegrasi dengan jasa layanan keuangan lainnya seperti bank. Maka dari itu ketika orang akan melakukan pinjaman akan terdata dengan cepat bagaimana mereka memiliki riwayat cicilan pada pinjaman yang lain.

Hal yang perlu diketahui juga bahwa ketika peminjam tidak membayar pinjaman dengan tepat waktu, maka akan masuk daftar blacklist perbankan. Jadi ketika akan melakukan pinjaman KPR atau Modal Usaha lainnya akan menjadi kendala di kemudian hari. Saat ini data peminjam sudah terintegrasi dengan baik bahkan antar perusahaan fintech yang resmi terdaftar di OJK.

#5. Mengganggu Pekerjaan.

Kamu bisa membayangkan jika setiap hari dikejar debt collector dengan cara-cara yang kurang ramah, tentu saja hal tersebut akan mengganggu aktifitas kita. Apalagi sudah masuk ke ranah pribadi dengan menghubungi kerabat atau rekan bisnis. Tentu saja hal tersebut akan membuat kita malu dan stres.

Hal ini sengaja dilakukan oleh jasa debt collector agar utang tersebut segera dilunasi. Namun meskipun demikian cara ini dianggap ilegal. Bagi kamu yang tidak mau terganggu dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi sekali lagi harap mempertimbangkan baik-baik dalam melakukan pinjaman online dengan menghitung pendapatan dan pengeluaran agar seimbang.


Baca Juga: Perusahaan Peer To Peer di Indonesia

2 Langkah Bijak Ketika Tidak Mampu Membayar Pinjaman Online.

Ketika kondisi sudah terbelit dan kamu sudah telanjur melakukan pinjaman online tanpa kontrol dan membuat stres maka ada dua langkah bijak yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

#1. Jangan Menghindar atau Lari dari Tagihan Pinjaman Online.

Langkah ini adalah cara bijak pertama agar penagih tidak mengejar kamu hingga ke rekan bisnis atau atasan di kantor. Hadapi tagihan dengan tenang dan usahakan untuk mengatur kembali tenor cicilan dan besar angsuran agar lebih mudah untuk dibayar.

Setelah itu hidup dalam kesederhanaan dan fokus untuk membayar utang sampai selesai dan jadikan hal itu sebagai pembelajaran bahwa dibalik kemudahan dalam pinjaman online terkandung risiko yang cukup berat seperti dikejar-kejar debt collector.

Cari usaha sampingan untuk mendapatkan pemasukan lebih seperti menjadi reseller atau bisnis lain yang bisa membantu untuk memperingan beban cicilan. Lakukan dengan penuh kesabaran dan buang emosi dan menyalahkan diri sendiri.

#2. Bercerita Kepada Orang Tua atau Saudara.

Hal paling mungkin ketika sudah terbelit utang yang banyak dan sangat mengganggu kehidupan adalah menceritakan hal tersebut kepada keluarga atau orang tua. Minimal hal tersebut akan memberikan kelegaan dan support dari orang-orang yang menyayangi kita.

Hal lain yang mungkin terjadi adalah keluarga akan memberikan solusi atas beban utang kita dengan memberikan pinjaman dengan cicilan dan bunga yang lebih rendah. Namun perjuangan untuk membayar utang dengan usaha sendiri juga perlu dikedepankan. Jangan sampai kita menjadi beban bagi orang lain.

Oke sahabat JurnalForex, itu tadi beberapa hal tentang dampak akibat tidak membayar pinjaman online dengan baik. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi pertimbangan sebelum melakukan pinjaman online tanpa agunan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar