1/31/2019

3 Prinsip Dasar Bank Syariah Menurut Ajaran Islam

Prinsip Bank Syariah
Sumber: id.wikipedia

Prinsip Bank Syariah Paling Utama

Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, maka tidak heran jika dalam beberapa sektor kehidupan senantiasa meletakan peraturan syariah islam termasuk pada sektor perbankan.

Prinsip bank syariah menurut ajaran Islam mengandung 3 pokok utama yang paling menonjol yaitu Transparan, Tidak Mengandung Riba dan Kemitraan.

Sejak resmi berdiri di Indonesia, bank syariah yang dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif. Hal ini bisa dilihat dari antusias masyarakat untuk menabung melalui bank syariah serta berdirinya berbagai bank syariah dari berbagai perusahaan bank konvensional.

Bank Syariah adalah lembaga keuangan dimana dalam menjalankan usahanya diatur sesuai dengan Syariah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Hadist. Berdasarkan Undang-Undang No 21 Tahun 2008 dijelaskan bahwa perbankan syariah yaitu meliputi seluruh hal yang berkaitan dengan bank syariah termasuk didalamnya unit usaha syariah guna melengkapi kegiatan usaha, kelembagaan dan proses pelaksanaan usaha.

Salah satu prinsip bank syariah yaitu tidak memberlakukan bunga. Hal ini adalah salah satu ciri yang sangat menonjol dan membedakan dengan bank konvensional. Sistem bunga dianggap riba dan bertentangan dengan Syariah Islam karena terjadi pertambahan atau pertumbuhan harta pokok secara bathil.

Prinsip Bank Syariah:

Transparan : Di dalam sistem syariah yang diterapkan dalam perbankan nasional terdapat transparansi yang terjamin dengan laporan kepada Investor mengenai dana yang mereka simpan di Bank Syariah.

Tidak Mengandung Riba : Di dalam perbankan Syariah tidak mengenal istilah bunga saldo karena hal tersebut bertentangan dengan ajaran Syariah Islam mengenai uang riba.

Kemitraan : Jalinan kerjasama antara investor, pemakai dana dan lembaga keuangan sebagai mitra dengan kedudukan yang sama tanpa ada yang ditinggikan. Kesejajaran ini bertujuan untuk membentuk hubungan yang harmonis serta sinergi untuk mencapai keuntungan bersama.

Produk prinsip bank syariah

Produk yang Menganut Prinsip Syariah

Di dalam Bank Syariah terdapat produk-produk unggulan baik itu dalam simpanan, bagi hasil, jual-beli atau jasa. Secara garis besar, produk tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut (sumber: dosenekonomi.com):

Titipan atau Tabungan

Al-Wadi’ah : Prinsip dari Al-Wadi’ah tidak jauh berbeda dengan sistem simpanan tabungan pada umumnya. Hal yang membedakan adalah sistem penyimpanannya dimana pengelola keuangan tidak boleh memanfaatkan dana simpanan.

Mudharabah : Untuk sistem simpanan mudharabah, pihak pengelola keuangan boleh memanfaatkan dana simpanan atas persetujuan pihak penyimpan dana. Segala resiko yang terjadi atas pemanfaatan tersebut menjadi tanggung jawab pihak pengelola seutuhnya dan tidak melibatkan pemilik dana. Untuk segala keuntungan yang diperoleh harus dibagi antar kedua belah pihak sesuai dengan kesepakatan awal. Produk ini memiliki dua macam yaitu Mudharabah Mutlaqah dan Mudharabah Muqayyadah dimana pada sistem Muqayyadah, pihak pemilik dana bisa menentukan berapa bagian yang boleh untuk dimanfaatkan.

Prinsip Bagi Hasil

Al-Mudharabah : Produk syariah selain tabungan ada juga produk lain yang melibatkan antara investor, pengelola usaha dan pihak Bank. Peran dari bank syariah sendiri berfungsi sebagai perantara antara pihak investor dan pengelola usaha. Untuk jenis usaha dan sistem bagi hasil biasanya sudah tercantum dalam surat perjanjian sesuai dengan kesepakatan bersama. Pihak perantara akan mendapatkan komisi dari hasil kerjasama ini.

Al-Musyarakah : Secara prinsip, produk ini hampir sama dengan perpaduan antara reska dana dan CV. Al-Musyarakah bertujuan untuk memberikan layanan bagi dua orang atau lebih yang ingin bekerjasama untuk meningkatkan dana aset bersama. Dana usaha yang terkumpul dikelola sebagai usaha bersama dan hasil keuntungan yang didapat akan dibagi sesuai dengan kesepakatan awal.

Al-Muzara’ah : Produk ini ditujukan bagi pelaku usaha yang membutuhkan pinjaman modal dengan pengembalian sistem bagi hasil. Produk ini sudah mencakup untuk para petani, peternak dan pengusaha tambak.  Pada prinsipnya, kerjasama ini bisa digambarkan seperti pemilik lahan dan seorang pekerja. Hasil dari tanaman yang diolah akan dibagi antara kedua belah pihak sesuai dengan kesepatakan awal.

Al-Musaqah : Produk ini hampir sama dengan Al-Muzara’ah hanya perjanjian yang dipakai lebih mengikat. Al-Musaqah juga tidak jauh berbeda dengan Al-Musyarakah namun kerjasama ini hanya dikhususkan pada sektor pertanian. Pihak pekerja hanya berfokus pada penggarapan seperti menyiram dan memelihara.

Prinsip Jual Beli

Bai’ Al-Murabahah : Dalam hal ini Bank Syariah berfungsi sebagai pemilik modal untuk membeli barang sesuai dengan keinginan pembeli dengan harga tertentu. Kemudian barang tersebut akan dijual kepada pembeli dengan sistem pembayaran tunai atau kredit.

Bai’ As-Salam : Produk Syariah yang satu ini menempatkan bank syariah sebagai pemilik modal untuk membeli hasil produk pengusaha dengan harga tertentu sehingga dapat dipakai pengusaha untuk memutar modal. Bank syariah berperan sebagai perantara antara penjual dan pembeli.

Bai’ Al-Istishna : Hampir sama dengan Bai’ As-Salam cuma pihak bank syariah akan membuat kesepakatan yang terpisah antara pembeli dan penjual.

Dalam Bidang Jasa

Al-Wakalah : Kegiatan pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh bank syariah atas persetujuan pemilik dana seperti transfer, pembukuan atau pembelian dengan komisi yang akan diterima oleh pihak Bank atas transaksi tersebut.

Al-Kafalah : Prinsip produk ini adalah pertanggujawaban dari pihak bank atas pemenuhan pembayaran dari pihak pembayar kepada penerima atas kerjasama yang disepakati. Pihak Bank berfungsi sebagai perantara dan akan mendapat komisi dari jaminan tersebut.

Al-Hawalah : Produk jasa ini hampir sama dengan penjualan surat hutang dimana pihak debitur dan kreditur harus mensepakati atas penjualan surat tersebut.

Al-Rahn : Produk ini menyerupai penggadaian barang dengan hukum Syariah. Hal yang membedakan dengan penggadaian konvensional adalah tidak berlaku sistem riba.

Al-Qardh : Merupakan jasa Bank Syariah berupa pinjaman barang atau uang.

Itu tadi beberapa produk layanan yang ada di bank syariah selaku penghimpun dana, penyalur dana dan pelayanan jasa bank. Segala transaksi secara terbuka dan transparan akan disepakati bersama antara berbagai pihak sebelum terjadi transaksi.

prinsip ajaran islam yang sesuai dengan bank syariah

3 Prinsip Dasar Ajaran Islam yang Mendukung Perbankan Syariah

Sebagai landasan utama terbentuknya sistem perbankan syariah, ajaran Islam memiliki 3 prinsip dasar yang sangat mendukung perekonomian Islami yang tidak menghendaki riba dan tindakan bathil.

Tiga prinsip dasar ajaran Islam (sumber: Syariahmandiri.co.id):

Aqidah : Ajaran Islam yang menitikberatkan pada kuasa Allah sebagai sumber iman dan menjadi pedoman utama dalam kehidupan di dunia. Segala tingkah laku manusia di muka bumi semata-mata untuk mendapat ridha Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya sebagai khalifah yang mendapat amanah dari Allah.

Syariah : Hukum Islam yang mencakup hubungan dengan Allah (habluminAllah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas) sebagai bentuk aktualisasi atas akidah keyakinannya.

Akhlaq :   Kepribadian muslimin yang taat terhadap syariah dan aqidah sebagai wujud ketaatan kepada Sang Pencipta untuk mencapai akhlaqul karimah.

Dalam syariah islam selain menjauhkan diri dari riba juga menghapus gharar atau pertaruhan. Maka dari itu setiap transaksi yang ada dalam perbankan syariah harus jelas sejak awal tentang sumber dana serta pembagian hasil dari keuntungan bersama.

Baca Juga: Keuntungan Trading Syariah di Indonesia

Jenis Riba yang Tidak Sesuai Dengan Syariah Islam

Sebagai prinsip dasar bank syariah yang tidak menghendaki riba dalam perputaran uang, berikut ini adalah jenis-jenis riba menurut para ulama fiqih (sumber: Syariahmandiri.co.id):

Riba Fadhi: Menukar barang yang sejenis dengan takaran yang berbeda. Sebagai contoh menukar 5gr emas dengan 5gr emas lain dengan timbangan yang berbeda atau nilai harga yang berbeda.

Riba Qardh: Menerima/menghendaki pengembalian uang yang lebih banyak dari modal yang ia pinjamkan. Hal ini biasa dilakukan oleh para renternir yang memberikan pinjaman uang dengan imbalan bunga.

Riba Yad: Riba ini berlaku bagi orang yang belum menerima barang dari penjual tetapi sudah menjual kembali kepada pembeli yang lain untuk mendapatkan keuntungan. Sebagai contoh seorang pembeli rumah dari Si A dan belum proses pelunasan dan serah terima sudah dijual kembali kepada si B dengan harga yang lebih tinggi.

Riba Nasi’ah: Sistem pertukaran/pembelian barang yang sejenis dengan harga yang berbeda ditambah sistem pembayaran mundur/dilambatkan. Sebagai contoh Si A menjual 15gr Emas kepada Si B. Si A menghendaki pembayaran Si B dilakukan tahun depan dengan harga 18gr. Jika lebih dari satu tahun tidak dibayar maka si B harus membayar dengan harga 21gr.

Baca Juga: Fungsi Pasar Valuta Asing

Kesimpulan
Jika dilihat dari sistem kemitraan yang ditawarkan oleh bank syariah, maka komponen pihak yang melakukan transaksi didudukan pada derajat yang sama baik itu investor, peminjan, pengusaha dan Bank. Keterbukaan tentang sistem bagi hasil juga menjauhkan dari riba yang tidak dikehendaki. Sistem  ini juga menjauhkan dari sistem kapitalis yang memanfaatkan dana masyarakat untuk kepentingan sepihak dari pengelola dana tanpa memberikan keuntungan yang setimpal kepada pemilik dana.

Itu tadi beberapa prinsip dasar bank syariah yang perlu Anda ketahui. Semoga informasi ini dapat bermanfaat.
Jika ada pertanyaan tulis komentar:Klik >> BukaTutup